Negara Gagal dalam rangka melindungi warga negarannya, merupakan sebuah masalah yang menjadi sorotan utama dalam diskusi, bahwa ternyata pemerintah Indonesia belum mampu sepenuhnya dapat melaksanakan tugas Negara terhadap warga negaranya. Pemerintah bahkan tidak dapat mencegah adanya pertumpahan darah yang diakibatkan oleh salahnya pengelolaan sebuah urusan yang ditangani oleh pemerintah. Kasus Mesuji merupakan salah satu indikator bahwa Negara Indonesia mengabaikan kewajibannya melindungi warga negaranya sendiri.
Negara Indonesia memiliki indicator yang dapat dikatakan bahwa Negara ini gagal melakukan tugas dan fungsinya khusunya dalam kaitannya dengan warga Negara. Indicator pertama, tidak adanya jaminan keamanan bagi warga Negara, hal ini dapat terlihat dari kasus persengketaan tanah di Mesuji, seolah-olah Negara tidak mau campur tangan untuk melaksanakan tugasnya melindungi warga Negara, adanya pengabaian keamanan terhadap kegiatan peribadatan umat lain, hal ini memperkuat argument bahwa Negara tidak menjamin keamanan dan stabilitas demi ketentraman warga Negara dalam melakukan segala aktifitasnya. Gejala kedua, pemerintah gagal dalam mencukupi kebutuhan warga negaranya. Ketiga, terjadinya praktik korupsi yang terjadi di segala bidang, dan justru lembaga yang ditugaskan untuk melakukan pembersihan terhadap korupsi malah juga melakukannya. Keempat, terjadinya gesekan horizontal dan hal ini terkadang dibiarkan oleh aparat kemanan. Kelima, lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang menjadi kondisi Negara dan bangsa menjadi semakin tidak karuan/amburadul.
Secara kultulral Indonesia semestinya menjadi Negara yang kokoh karena bangsanya terlebih dahulu lahir sebelum Negara. Kelemahan terbesar Indonesia terdapat pada pemimpin. Dari masa setelah proklamasi Indonesia memiliki pemimpin yang hebat, namun tidak efektif. Bahkan dkatakan oleh Brigjend TNI (Purn) Saurip Kadi Indonesia belum siap dan terlalu cepat untuk merdeka, sehingga belumlah dibangun pondasi yang kuat dan mapan untuk membangun cita-cita besar pemimpinnya. Para pemimpin gagal membangun Indonesia secara berencana. Demokratisasi di Indonesia cenderung dipaksakan dan belum memiliki konsep dasar yang kuat, juga masyarakat Indonesia yang belum mampu menerima konsep ini sebelum ada pencerdasan politik, akibatnya terjadi money politik, praktek kong-kalikong dalam pemilu dan gencarnya politik pencitraan ini menjadi sebab utama terpilihnya orang tidak berkualitas untuk sebuah kedudukan yang berkualitas. Demokrasi bukan hanya distribusi sumber daya politik namun lebih dari itu demokrasi adalahpemerataan secara subtansial justru tidak terjadi di negeri nusantara yang kaya.
Lumpuhnya metal dan akal sehat masyarakat Indonesia merupakan penyakit kronis yang diderita oleh Indonesia, maka ini dapat dijadikan prioritas utama yaitu menyembuhkan Negara dan bangsa dari kelemahan mental, lumpuhnya nurani dan akal sehat. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan, maka pemimpin yang benar adalah mereka yang mau memasang telinga ke bumi, peka terhadap jeritan rakyat banyak yang menderita. Mau merasakan kondisi masyarakat bawah sehingga dia mampu berpikir untuk memberikan sesuatu yang terbaik dalam periodesasi kepemimpinannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar